Satuguru Maju
Kreatif Inovatif dan Cinta NKRI
Dulu selepas lulus dari madrasah aliyah saya tertarik dengan dunia perkantoran maka saya melanjutkan ke jurusan manajemen, kuliahlah saya di jurusan tersebut dan setelah lulus tidak lama alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan dan bisa hijrah ke beberapa kota. Pertama kerja di kota apel Malang lalu mencoba melamar ke tempat kerja lain dan terima di kota Kembang tempat kuliah saya wah....balik lagi ke kota ini sudah rejeki saya ke sini lagi come back to paris van java. Pindah ke Bali kemudian pindah lagi ke Jakarta, waktu itu saya single jadi ga repot dan ga beban pindah-pindah kota dan malah senang sekali kalau bukan karena panggilan kerja mungkin saya tidak akan merasakan tinggal di kota-kota tersebut mungkin hanya tahu saja tanpa merasakan dan berbaur dengan kota tersebut, seru sekali dan benar-benar masih segar semangatnya, karna saya punya target kala itu puasin dulu kerja selagi masih belum ketemu jodoh karena kalau suatu waktu saya menikah akan saya abdikan hanya untuk mengurus rumah tangga dan akan berhenti kerja.
Akhirnya ketemu jodoh juga saya dan menikah tidak lama dikaruniai seorang bayi selepas melahirkan dan ketika usia anak saya sudah setahun lebih ternyata kebosananpun menghampiri hanya di rumah saja ingin lagi beraktifitas di luar, mungkin karena sudah terbiasa saya kerja sebelumnya, akhirnya saya diskusikan dengan suami ingin bekerja lagi, suamipun mengijinkan dengan catatan tidak terlalu menyita waktu kamipun berembuk dengan saudara yang beliau seorang dosen PG TK diskusi berbincang dan akhirnya sayapun melanjutkan kuliah tapi banting setir yang tadinya mau meneruskan ke jurusan manajemen lagi jadi ambil keguruan dan saya tertarik dengan dunia mengajar mungkin karena jiwa keibuan saya yang sudah punya anak seru rasanya jadi ibu sekaligus ibu guru heehe....
Kelulusanpun saya raih dengan berbagai kesibukan dan pengaturan rutinitas ternyata repot juga kalau kuliah sudah rumah tangga dan punya anak alhamdulillah bantuan keluarga yang selalu membantu dan mendukung saya dalam menjalankan semuanya dari pengaturan kuliah dan merawat anak.
Ketika menjelang wisuda sebenarnya ada peristiwa yang membuat saya sangat terpukul dan takkan terlupakan dalam hidup saya yaitu ayah meninggal dunia jadi ayah tidak tahu dan tidak menyaksikan saya menjadi seorang guru, padahal saya ingat betul ayah saya sama teman-tenanya selalu dipanggil pak guru saya tidak tahu mengapa mereka memanggilnya pak guru mungkin saja cita- cita ayah waktu kecil ingin jadi guru. kini saya mewujudkan itu ayah sudah tiada. Selepas lulus sayapun kembali lagi ke kampung halaman saya karena ibu sendiri tidak ada yang menemani karena kakak dan adik sudah berumah tangga dan menetap di luar kota, setelah berembuk dengan keluarga akhirnya di putuskan saya yang harus pindah ke kampung halaman lagi. Sayapun menuruti, suami dan anak ikut bersama saya. Sekaligus saya mengabdikan diri mengajar di sebuah sekolah yang tidak jauh dari rumah dan jam 12 siang sudah pulang dari mengajar jadi tidak begitu menyita waktu dan bisa kurangkul semua.
Pengalaman Pertama kali mengajar ternyata begitu menyenangkan begitu bersemangat saya seolah-olah tidak menyangka, saya kok bisa jadi pengajar yang dulu lulus sekolah di arahkan sama kakak untuk melanjutkan keguruan saya tidak mau, tapi sekarang ini nyata dan akan menjadi pekerjaan saya sampai akhir, tidak akan berpindah hati lagi kepekerjaan yang lain hehe....seru bisa berbagi ilmu, berbagi pengalaman, bercanda dengan murid-murid seperti banyak teman bisa membuat saya selalu senang tertawa dengan mereka.
Tekad saya bulat mau tetap di sini di dunia mengajar bukan hanya sebagai pengajar bahkan sebagai pendidik. Karena mereka perlu di bekali bukan hanya ilmu tapi juga kemandirian serta kekreatifan dan keinovasian dalam dunia yang akan mereka hadapi.
Pertama saya mengajar hanya di tingkat satuan sekolah pertama atau SMP pada tahun 2009 dan pada tahun 2012 sorenya saya mengajar di madrasyah atau DTA pada tahun 2013 mengajarpun saya merambah ke tingkat MI atau setingkat SD berarti saya mengajar di tiga tempat tapi justru saya semakin repot semakin senang dan juga semakin semangat apalagi kalau sudah berada di tengah-tengah peserta didik yang dari umuran anak-anak sampai ke remaja, keseruan dan berbagai karakter, kebiasaan, kenakalan mereka itu justru membuat saya merasa tertantang sekaligus terhibur sambil mengenal dan mempelajari juga sikap dan karakter dari masing- masing anak yang beda usia, waahh....ternyata masih banyak ilmu yang harus saya pelajari nih, seru! secara tidak langsung merekapun memberi ilmu dan pelajaran kepada saya, meneliti, memperhatikan, mempelajari serta memahami mereka merupakan ilmu bagi seorang guru. yang menjadi kendala mereka dalam belajar membuat saya harus mencari trik dan solusi cara mengatasinya menjadi suatu tantangan yang seru, apalagi kalau sudah selesai belajar materi atau menyelesaikan tugas dengan nilai bagus dan mereka menguasainya alangkah senangnya di situ kita menjadi simbiosis mutualis saling membutuhkan satu sama lain, bukan hanya saya yang butuh mereka tapi merakapun butuh saya. Kendala-kendala dalam mengajar dan memahami peserta didik juga tidak dapat disangkal ada saja dan membuat saya penasaran ingin mencoba mengajar anak SMA/MA atau SMK. Saya merasa apa saya bisa? apa saya mampu? menangani mereka yang sudah besar dan sudah merasa memiliki jati diri seumuran mereka apalagi SMK kebanyakan anak laki-laki yang harus ekstra. Alhasil pada tahun 2017 saya merambah ke tingkat MA ( Madrasyah aliyah) di SMP negri yang pertama tetap saya jalani hanya yang di MI dan DTA saya lepas karena kalau di tingkat MI mengharuskan jadi guru kelas sedangkan saya guru mapel dan sudah lumayan lama juga mengajar di tingkat SMP jadi sayang kalau di lepas yang di SMP karena sudah sesuai dengan jurusan saya, serta waktu itu ada tawaran juga mengajar di SMP swasta jadi tiga tempat saya jalani ternyata di tingkat atas harus lebih ekstra saya dalam menggali kemampuan saya harus lebih kreatif dan inovatif di tuntut mengajarkan kepada peserta didik dengan berbagai model pembelajaran serta keinovatifan.
Satuguru harus bisa untuk semua murid dan harus bisa melahirkan generasi maju yang kreatif, inovatif serta cinta NKRI. Saya sendiri bukan hanya milik peserta didik di SMP bukan hanya milik peserta didik di MA/SMK tapi saya harus bisa memposisikan diri dimana saya berhadapan dengan peserta didik tingkat SMP yang masih remaja harus bisa memahami kebiasaan dan yang membuat mereka betah berada di kelas bahkan juga ketika di antara mereka ada yang curhat harus bisa menyikapi sesuai dengan kemampuan memahaminya yang masih remaja, juga dalam menyampaikan materi agar mudah dipahami sesuai dengan tingkat pemahamannya, dalam memberikan gambaran cinta terhadap tanah air sebagai warga negara yang baik penerus bangsa. serta contoh-contoh yang bisa mereka pahami. Apalagi dengan penggunaan IT pada masa pandemik covid -19 sekarang hampir 80% pembelajaran menggunakan teknologi baik hp maupun komputer, di sini selain memang harus mengenalkan manfaat dan kegunaan IT juga harus mengingatkan dampak negatifnya dan harus mengingatkan setelah selesai belajar dan mengerjakan tugas anak supaya tidak tertarik dan tidak membuka situs-situs yang bisa berdampak buruk pengaruhnya. Karena kita di tuntut membangun peserta didik untuk kreatif dan inovatif di jaman sekarang otomatis saya sendiri juga harus ikut menginovasi kemampuan dan kreativitas saya, apalagi menghadapi anak didik tingkat MA dan SMK dirasakan berbeda dengan menghadapi anak didik tingkat SMP, dimana kelas atas mereka lebih berani lebih kritis karena pola pikir dan cara menanggapi serta memahani terhadap situasi juga sangat berbeda di sini saya terapkan dan lakukan selain belajar di kelas saya refleksikan dengan berkunjung ke luar , misal yang pernah saya lakukan berhubungan dengan cinta tanah air dan sejarah serta mencintai budaya peserta didik saya ajak berkunjung ke tempat-tempat bersejarah. Untuk anak SMK adanya kunjungan industri.
Mereka sebagai penerus bangsa yang harus lebih maju karena persaingan dengan dunia luar di tuntut untuk berinofasi serta berkreatifitas dalam bersaing, satuguru bisa melahirkan beribu -ribu bibit unggul generasi jangan putus asa dan terus berinovatif dengan satuguru kita maju bersama demi NKRI sebagai warga negara yang cinta bangsanya.
Comments
Post a Comment