Tanggal : 18 Pebruari 2022
Lanjutkan : 15
Tema : Konsep Buku Nonfiksi
Narasumber : Nasiim, M.Pd
Gelombang : 23
Malam yang dingin aku sendiri
dingin dingin...
hati ini tambah dingin
entah mengapa...", petikan lagu lawas mengiringi ku menulis resume malam ini
Walau dingin seketika berubah menjadi hangat berkat ditemani riuhnya semangat para penggiat literasi belajar menulis gelombang 23 & 24, beserta moderator dan narasumber kita ibu Nasiim, M.Pd yang akan membagikan ilmu dan pengalamannya
"Menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Berbagai penelitian bahasa menunjukkan di antara empat keterampilan berbahasa, menulis adalah keterampilan yang dianggap paling sulit. Menulis tidak semudah berbicara, bergosip. Tantangannya justru ada yaitu karena sulit. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, membuat resume, menghasilkan buku, maka akan lahir CINTA MENULIS"
Walau dianggap sulit tapi jangan sampai membuat kita khawatir/ketakutan yang akhirnya ga jadi - jadi untuk menulis
Ketakutan ketika mau menulis bisa saja muncul dan saya rasa wajar bagi penulis pemula, seperti timbul ketakutan berikut:
1. Tidak ada yang membaca
2. Salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan
3. Merasa karya orang lain lebih bagus
Rasa ketakutan bisa teratasi dengan cara terus belajar dan tanamkanlah bahwa menulis sesuatu yang menyenangkan dan bisa menghilangkan stress
Tulislah yang sesuai dengan hobi, kegemaran, kesukaan, dirasa, dikuasai dan apa yang ingin kita tulis
Pepatah bilang " tulislah apa yang kamu ingin tulis" jangan banyak takut, bukankah dari kesalahan kita bisa belajar dan pintar?
Bisa karena terbiasa dari terbiasa kita bisa banyak belajar, menemukan ide, menemukan trik dan tips, sehingga banyak ilmu yang diperoleh serta bisa menghantarkan jadi penulis
Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan
Seperti Dan Poynter, menulis sebuah buku yang sangat populer dan menjadi rujukan para penulis pemula, judulnya Is There A Book Inside You? Setiap orang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan di dalam dirinya
Diantara kita pasti sudah banyak kejadian yang dialami entah itu pahit atau manis mengukir perjalanan hidup. Jadi, semua tergantung pada individu masing-masing apakah mau dikeluarkan dalam bentuk buku atau tidak. Atau hanya mau dikeluarkan berupa obrolan atau cerita kepada yang lain tanpa meninggalkan jejak yang mudah usang/hilang
Bisa juga kita bertanya pada diri sendiri, alasan saya menjadi penulis itu apa?
Diantaranya supaya bisa:
1. Mewariskan ilmu lewat buku.
2. Ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline.
3. profesi sebagai seorang guru.
Jadikanlah kata-kata mutiara di atas sebagai
motivasi
Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:
1. Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)
Contoh: Buku Pelajaran
2.Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.
Contoh: Buku Panduan
3. Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir.
Pola ini diterapkan pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara)
Pola yang beliau pakai dalam menulis buku Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster.
* Proses penulisan buku terdiri dari 5 langkah, yakni
1. Pratulis
2. Menulis Draf
3. Merevisi Draf
4. Menyunting Naskah
5. Menerbitkan
~ Langkah Pertama
Pratulis
1. Menentukan tema
2. Menemukan ide
3. Merencanakan jenis tulisan
4. Menelan bahan tulisan
5. Bertukar pikiran
6. daftar
7. Meriset
8. Membuat Mind Mapping
9. kerangka kerangka
Tema bisa ditentukan hanya dalam sebuah buku. Tema dari buku nonfiksi adalah parenting, pendidikan, motivasi dll.
Pilih tema yang dikuasai dan yang kita cintai.
Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya
1. Pengalaman pribadi
2. Pengalaman orang lain
3. Berita di media massa
4. Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram
5. Imajinasi
6. Mengamati lingkungan
7. Perenungan
8. Membaca buku
Ketika ide itu datang segeralah ditulis, karena ide itu datang dan juga mudah pergi
Tema yang diangkat di buku bisa pendidikan. Ide berasal dari berita di media massa, mengamati lingkungan serta dari media sosial. Contoh tema yang diangkat oleh bu nasiim diambil dari materi di Prof EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020
Bu Nasiim memaparkan pengalamannya membuat buku nonfiksinya:
Referensi yang berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi internet.
Pada saat beliau menulis buku ini, sedang dalam situasi lockdown. Jadi hanya duduk manis di rumah.
Referensi penulisan buku bisa dari sumber berikut ini.
1 . Pengetahuan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;
2. Keterampilan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;
3. Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;
4. Penemuan yang telah didapatkan.
5. Pemikiran yang telah direnungkan
*Ada 5 hal yang bisa dijadikan referensi
dan jikalau kelimanya mengalir bisa lancar jaya tuh tulisan
Kita harus bersyukur di era seperti sekarang ini, kemudahannya digital fasilitas untuk menulis, semua serba mudah.
Bisa kita bayangkan, penulis zaman dulu mengetik idenya untuk menjadi buku dengan mesin ketik manual.
Mereka mampu menghasiljan karya yang luar biasa. Seharusnya generasi kita lebih luar biasa lagi. sekarang menulis pakai rekam suara pun bisa jadi tulisan
Bagaimana dengan keadaan sekarang kemajuan teknologi yang produksi buku download youtuber, dan tiktoker
Youtuber bisa menjadi hebat juga membutuhkan tim kreatif yang juga pasti membutuhkan skenario mereka juga sama banyak belajar supaya tayangan videonya menarik banyak yang like dan subcribe
Untuk memotivasi supaya buku tetap penting karena buku adalah simbol peradaban manusia, yaitu harus didukung dengan kekuatan/kemampuan menulis
Nah bagaimana supaya kemampuan menulis Karya non fiksi kita semakin terasah?
Tahap berikutnya membuat kerangka. Contoh Kerangka yang beliau ajukan kepada Prof. Eko dan disetujui untuk melanjutkan proses penulisan sebagai berikut:
BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia
A. Pembagian Generasi Pengguna Internet
B. Generasi Karakteristik Dalam Berinternet
BAB 2 Media Sosial
A.Media Sosial
B.UU ITE
C. Kejahatan di Media Sosial
BAB 3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka Literasi Digital
E. Level Kompetensi Literasi Digital
F. Manfaat
G. Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi
H. Kewargaan Digital
BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Pola Pikir Digital Warganet
A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
C. Membangun Pola Pikir Digital Warganet
Dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, beliau mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature= Youtube)
Pak Yulius juga merupakan alumni gelombang 8. Langkah beliau sangat mujarab untuk menulis sebuah buku
Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis. Tinggal mengksekusi
* Anotomi Buku
1. Halaman Judul
2. Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman Daftar Isi
4. Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakata
6. Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian /Bab
8. Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman Glosarium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halaman Indeks
12. Halaman Tentang Penulis
~ Langkah kedua
Menulis Draf
1. Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas
2. Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan
~ Langkah ketiga
Merevisi Draf
1. Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian
2. Memeriksa gambaran besar dari naskah
~ Langkah keempat
Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)
1. Ejaan
2. Tata bahasa
3. Diksi
4. Data dan fakta
5. Legalitas dan norma
* Hambatan-hambatan dalam menulis
1. Hambatan waktu
2. Hambatan kreativitas
3. Hambatan teknis
4. Hambatan tujuan
5. Hambatan psikologis
* Cara mengatasi hambatan:
Banyak cara mengatasi hambatan untuk menulis. Solusinya ada pada diri kita diantaranya:
1. Banyak membaca
2. Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang-orang sekitar atau terkait dengan sumber.
3. Disiplin menulis setiap hari.
4. Pergi ke pasar atau ke tempat-tempat yang disukai. Ini menjadi mood booster untuk menulis lagi
~Langka kelima
Menerbitkan Buku
❤Do what you love and love what you do❤
đź’‹Lakukan apa yang kamu sukai dan sukai apa yang kamu lakukanđź’‹
Terus berkarya Bu
ReplyDeleteSemangat Menulis untuk keabadian
Salam Blogger..
Terimakasih banyak salam bloger juga
DeleteSemoga kita juga bisa ya bu
ReplyDeleteBagus resumenya Bu. Hanya ada kesalahan narasumber, mungkin nanti bisa diperbaiki.
ReplyDelete