Ketika melihat pemandangan seperti gambar diatas pasti akan berkata ih sampah, bau, kotor, jorok, membawa penyakit, dan lain-lain saat lewat pasti dengan otomatis menutup hidung dan menahan napas karena takut terhirup bau yang tidak sedap, takut sumber penyakit terhisap
Masalah sampah tak habis habisnya selalu jadi polemik di mana-mana, dulu mungkin hanya di perkotaan yang penduduknya padat
Bahkan TPS yang sudah di tentukan di protes warga karena keberatan dengan baunya dan efek dari timbunan sampah dekat dengan pemukiman warga
Masalah sampah yang tidak tertangani, karena masyarakat bingung mau buang ke mana, di bakar sendiri gada tempat toh rumah berjejal, bisa- bisa di protes warga karena asapnya, di buang di kebun gada tanah kosong atau kebun, petugas pengangkut sampah belum ada, atau mungkin masyarakatnya sendiri yang suka telat bayar iuran buat tukang pengangkut sampahnya yang akhirnya telat datang
ujung-ujungnya sampah rumah tangga di tiap rumah terus bertambah dan menumpuk masyarakatpun bingung harus kemana membuangnya, jalan pintas yang penting jauh dari rumah sendiri, lempar ke pinggir sungai atau tempat sepi ujung jalan
Satu, dua, tiga orang melakukan itu satu, dua, tiga kantong plastik isi sampahpun mulai mengisi tempat tersebut yang lama- lama diikuti oleh warga lain yang senasib bingung buang limbah rumah tangga, lama- kelamaan jadi gundukan sampah
Walau tidak jarang larangan berupa tulisan di larang buang sanpah di sini, jangan buang sampah sembarangan dan lain-lain berupa peringatan tapi tulisan tinggal tulisan hanya di baca tanpa di taati, walau di taati hanya berlaku dua sampai tiga hari setelah itu masyarakatpun mulai lagi membuang sampah sembarangan
Sudah berbagai cara di lakukan supaya kesadaran masyarakat akan kebersihan dan menjaga lingkungan dari tumpukan sampah yang tidak sedap untuk di pandang terutama buat kesehatan
Selain peringatan tulisan juga peringatan berupa dipasang pagar sekitar sungai, di tutupnya sekitar jembatan memakai kayu atau seng dengan harapan masyarakat sadar tidak lagi membuang sampah di tempat tersebut
Bahkan sekarang masalah sampah bukan hanya di perkotaan di pedesaanpun sudah menjadi polemik yang rumit harus turun tangan dan melibatkan perangkat desa sebagai yang berwenang mengatur warga
Petugas pengangkut sampah juga yang jaman dulu hanya ada di perkotaan kini di pedesaanpun sudah berlaku, di bangunnya sarana tempat pembakaran sampah di tiap desa
Dulu semua ini, seperti petugas pengangkut sampah yang tiap hari dengan motor catornya keliling untuk mengangkut sampah di tiap rumah, tempat pembakaran sampah, tidak pernah saya jumpai di desa, kini menjadi pemandangan tiap hari.
Sekalinya pengangkut sampah bolos atau telat wargapun sudah pada ngedumel karena sampah gada yang ngangkut.
Mengapa masalah sampah menjadi polemik yang gada habis-habisnya di bahas? Apa faktor penyebabnya? Bagaimana cara menanggulanginya?
Kita bahas satu persatu
Faktor penyebab :
👉 Penduduk semakin padat
👉 Jenis sampah yang semakin beragam
👉 Kesadaran masyarakat masih kurang
👉 Keperdulian terhadap lingkungan bersih masih sedikit
👉 Sikap cuek masyarakat
Cara penanggulangannya :
👉 Penduduk semakin padat, karena jumlah penduduk yang semakin banyak ini berpengaruh terhadap lahan kosong, di mana banyaknya di bangun pemukiman selain itu pendudukpun terus bereproduksi yang mengakibatkan semakin banyak jiwa maka semakin banyak makanan, baha, alat yang di pakai berakibat semakin banyak pula sampah rumah tabgga yang di hasilkan
👉 Jenis sampah yang semakin beragam, jenis sampah sekarang sangat berbeda di jaman dulu. Sekarang banyak bahan yang terbuat dari plastik atau bahan yang lama hancur, seperti bahan yang sering di pake makanan walau praktis tapi kalau sudah di buang jadi sampah sangat butuh waktu lama untuk bisa hancur, bahkan tidak bisa hancur.
Plastik- plastik sering di pakai untuk makanan yang di bungkus, masyarakat tidak sedikit yang membeli makanan supaya praktis dan di bawa pulang, seperti baso, es, cilok, dan lain-lain. Wadah makanan lainnya yang sering di gunakan diantaranya lagi ada Alumunium foil, styrofoam. Selain wadah makan yang susah di bakar juga yaitu popok celana bayi yang cukup tebal dan basah walau di bakar memerlukan minyak tanah untuk bisa hancur, sedangkan minyak tanah sudah agak sulit di dapat dan harganya cukup mahal, ini juga yang membuat masyarakat malas untuk membakar sampah tersebut. Bahkan madyarakat sudah menjadi kebiasaan jaman sekarang menggunakan yang praktis- praktis
Styrofoam tempat makanan yang banyak di gunakan
Makanan dengan menggunakan Alumunium foil
👉 Kesadaran masyarakat yang masih kurang dalam membuang sampah, faktor mager ( males gerak ). Setelah makan plastik bekas tempat makananpun asal buang saja dengan alasan tempat keranjang sampahnya jauh, keranjang sampahnya ga di sediakan, ada petugas kebersihan ini
👉 Keperdulian terhadap lingkungan bersih masih sedikit, diam di tempat bersih semua orang suka tapi untuk menjaga kebersihannya masih sedikit orang yang perduli, melihat sampah satu saja enggan tuk membuang ke tong sampah padahal sudah di sediakan dengan alasan siapa yang membuang bukan saya ini, masih ada rasa gengsi bila buang sampah
👉 Sikap cuek masyarakat, masih ga peduli bila ada yang membuang sampah seenaknya, sikap acuh, bodo amat atau EGP. Ga enak negur orang, takut marah dan tersinggung
Nah....kalau semua itu kita rasakan, harusnya mulai menyadarkan diri dari sekarang untuk menjadi masyarakat yang satu sama lain saling sadar akan lingkungan bersih, saling menjaga, kebersihan sebagian dari iman
Annadhofatu minal iman merupakan salah satu hadist Rasulullah SAW yang menekankan bahwasanya setiap muslim haruslah senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Pasalnya lafadz annadhofatu minal iman jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Kebersihan adalah sebagian dari pada iman
Makasih bu masih belajar nih
ReplyDeleteMantap dan lengkap
ReplyDeleteArtikel yang lengkap dan luar biasa!
ReplyDeleteLengkap dan sistematis.
ReplyDeleteWoh. Lengkap
ReplyDeleteTetap semangat menulis.
Lanjutkan!
Kita mulai dari diri sendiri yukkk
ReplyDelete